Senin, 16 Mei 2016
Senin, 16 Februari 2015
My Dream: MAKNA KEBERSAMAAN
My Dream: MAKNA KEBERSAMAAN: Kebersamaan, sebuah kata yang udah sangat sering sekali kita dengar dan ucapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan kata dasar kebersa...
Rabu, 18 Desember 2013
My Dream: N.A.T.A.L.
My Dream: N.A.T.A.L.: Natal Artikel ini merupakan hari raya Kristen yang didasarkan atas peristiwa Kelahiran Yesus Natal Kisah Natal menyebutkan kelah...
Senin, 25 Maret 2013
"THE MAKERS of HISTORY"
My Dream: "THE MAKERS of HISTORY": Thread Not Solved Yet "Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu b...
"THE MAKERS of HISTORY"
Thread Not Solved Yet
"Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara!!!"
Inilah pidato Bung Karno di Semarang 29 Juli 1956 yang spektakuler itu.
Di pidato penting ini Bung Karno menekankan bagaimana cara, supaya Indonesia menjadi bangsa yang berpikir besar, punya impian-impian dan fantasi besar, tidak kalah dari Amerika. Wajarlah bila Bung Karno begitu dikagumi oleh bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia.
"Saudara-saudara,
Djuga sadja pernah tjeritakan dinegara-negara Barat itu hal artinja manusia, hal artinja massa, massa.
Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, "basically" - pada dasar dan hakekatnja - adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah jang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah achirnja penentu sedjarah, "The Makers of History". Bahwa massa inilah jang tak boleh diabaikan ~ dan bukan sadja massa jang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Djerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.
Sebagai tadi saja katakan: Bahwa "World Prosperity", "World Emancipation", "World Peace", jaitu kekajaan, kesedjahteraan haruslah kekajaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.
Itu saja gambarkan, saja gambarkan dengan seterang-terangnja. Saja datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika - Djerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saja katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku jang diberi kewadjiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! - Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku jang berbuat, "Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!"
Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga!
Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin tjarilah peladjaran dari pada hal hal ini semuanja, agar supaja saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerdjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.
Apa jang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Jang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu - terutama sekali di Amerika Serikat - apa jang saja katakan tempoh hari disini " Hollandsdenken " tidak ada.
"Hollands denken" itu apa? Saja bertanja kepada seorang Amerika. Apa "Hollands denken" artinja, berpikir secara Belanda itu apa? Djawabnja tepat Saudara-saudara "That is thinking penny-wise, proud, and foolish", katanja.
"Thinking penny-wise, proud and foolish". Amerika, orang Amerika berkata ini, "Thinking penny-wise" artinja Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa djadi dua senapa `ndak?........ satu sen……..satu sen……… "Thinking penny-wise"………"Proud" : congkak, congkak, "Foolish" : bodoh.
Oleh karena akhirnja merugikan dia punja diri sendirilah, kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan "Hollands denken" itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikut, lantas mendjadi orang jang berpikir "penny-wise, proud and foolish".
Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunjai keberanian - Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi-fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika.

George Washington Monument misalnja,
tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara.
Bangsa jang tidak mempunjai : imagination" tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa jang tidak mempunjai "imagination"………ja, bikin tugu, ja "rongdepo", Saudara-saudara. Tugu "rong depo" katanja sudah tinggi, sudah hebat.
"Pennj-wise" tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara.
Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan……tetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi…….Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan - Pak Winarno di Palembang - Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja "ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi" - Saja diam sadja -"Sungai Ogan" - Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan "imagination" zonder tjagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu djembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah djembatan itu !! Dan saja melihat di San Fransisco misalnja, djembatan jang demikian itu ; djembatan jang pandjangnja empat kilometer, Saudara-saudara ; jang hanja beberapa tjagak sadja.
Satu djembatan jang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; jang kapal jang terbesar bisa berlajar dibawah djembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu djembatan jang lima kilometer lebih pandjangnja, "imagination", "imagination" "imagination"!!! Tjiptaan besar!!!

Jembatan raksasa Golden Gate di San Francisco,
sudah berdiri sejak tahun 1937
Kita jang dahulu bisa mentjiptakan tjandi-tjandi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu jang sampai sekarang belum hancur ; kita telah mendjadi satu bangsa jang kecil djiwanja, Saudara-saudara!! Satu bangsa jang sedang ditjandra-tjengkalakan didalam tjandra-tjengkala djatuhnja Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Mendjadi satu bangsa jang kecil, satu bangsa tugu "rong depa".

Saja tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak tjantik. Tapi saja berkata : Tiga danau di Flores lebih tjantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan tjukup : bahan ketjantikan, bahan kekajaan. Bahan kekajaan sebagai tadi saja katakan : "We have only scratched the surface " - Kita baru `nggaruk diatasnja sadja.
Kekajaan alamnja, Masja Allah subhanallahu wa ta'ala, kekajaan alam. Saja ditanja : Ada besi ditanah-air Tuan? - Ada, sudah ketemu :belum digali. Ja, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percajalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunjai Uranium pula.
Kita kaja, kaja, kaja-raja, Saudara-saudara : Berdasarkan atas "imagination", djiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.
sumber : imperiumindonesia
My Dream: Polisi Jujur itu bernama Irjen "URSINUS ELLIAS MED...
Polisi Jujur itu bernama Irjen "URSINUS ELLIAS MEDDELU...:
Harta kekayaan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo membuat orang menggeleng-gelengkan kepala. Dia memiliki seju...
Harta kekayaan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo membuat orang menggeleng-gelengkan kepala. Dia memiliki seju...
Polisi Jujur itu bernama Irjen "URSINUS ELLIAS MEDDELU"
Harta kekayaan
mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo membuat orang
menggeleng-gelengkan kepala. Dia memiliki sejumlah rumah mewah, tanah,
mobil, SPBU hingga bus pariwisata. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
memperkirakan harta kekayaan Djoko lebih dari Rp 100 miliar.
KPK menduga uang ini berasal dari korupsi simulator SIM dan tindak pidana pencucian uang. Kasus Djoko masih ditangani KPK.
Sejak dulu posisi di Korps Lalu Lintas dinilai lahan basah. Perilaku para polisi yang kerap meminta damai pun menambah buruk citra penegak hukum ini. Benarkah tak ada sosok yang pantas diteladani dari Korps Lalu Lintas Polri?
Ternyata ada. Sosok teladan itu sejujur Jenderal Hoegeng. Tak serupiah pun uang kantor dibawa pulang. Hidupnya dihabiskan untuk memberikan teladan bagi korps lalu lintas.
KPK menduga uang ini berasal dari korupsi simulator SIM dan tindak pidana pencucian uang. Kasus Djoko masih ditangani KPK.
Sejak dulu posisi di Korps Lalu Lintas dinilai lahan basah. Perilaku para polisi yang kerap meminta damai pun menambah buruk citra penegak hukum ini. Benarkah tak ada sosok yang pantas diteladani dari Korps Lalu Lintas Polri?
Ternyata ada. Sosok teladan itu sejujur Jenderal Hoegeng. Tak serupiah pun uang kantor dibawa pulang. Hidupnya dihabiskan untuk memberikan teladan bagi korps lalu lintas.
Polisi jujur itu bernama Inspektur Jenderal Ursinus Ellias Meddelu. Dia
menjabat Direktur Lalu Lintas Markas Besar Angkatan Kepolisian tahun
1965-1972. Setelah itu menjadi Kadapol (Kini Kapolda) Sumatera Utara.
Ursinus dikenal sebagai bapak Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Dia juga yang membenahi sistem surat tilang.
Tapi apakah kemudian Ursinus mengambil keuntungan dari jabatannya? Apakah Ursinus memperkaya diri? Tidak sama sekali. Jenderal ini baru bisa punya rumah setelah mencicil mess dengan uang pensiunnya.
Bayangkan juga seorang jenderal yang tak mampu menguliahkan anak-anaknya karena kekurangan biaya.
"Kisah hidup Papa seperti sulit dipercaya. Papa meneladani Jenderal Hoegeng soal kejujuran dan pengabdian.
Akibatnya saya dan adik-adik tidak bisa kuliah karena kurang biaya," kata Elias Christian Meddelu, putra sulung Ursinus saat menerima tim liputan merdeka.com di rumahnya di kawasan Otista, Jakarta Timur.
Membandingkan Irjen Djoko Susilo dan Irjen Ursinus Meddelu adalah sebuah ironi. Sama-sama komandan lalu lintas Polri, dengan kekayaan yang bagai bumi dan langit.
Seperti Hoegeng, banyak cerita menarik soal Ursinus. Tim merdeka.com mengupas sekelumit kisah soal teladan langka di tubuh korps lalu lintas ini.
Ursinus dikenal sebagai bapak Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Dia juga yang membenahi sistem surat tilang.
Tapi apakah kemudian Ursinus mengambil keuntungan dari jabatannya? Apakah Ursinus memperkaya diri? Tidak sama sekali. Jenderal ini baru bisa punya rumah setelah mencicil mess dengan uang pensiunnya.
Bayangkan juga seorang jenderal yang tak mampu menguliahkan anak-anaknya karena kekurangan biaya.
"Kisah hidup Papa seperti sulit dipercaya. Papa meneladani Jenderal Hoegeng soal kejujuran dan pengabdian.
Akibatnya saya dan adik-adik tidak bisa kuliah karena kurang biaya," kata Elias Christian Meddelu, putra sulung Ursinus saat menerima tim liputan merdeka.com di rumahnya di kawasan Otista, Jakarta Timur.
Membandingkan Irjen Djoko Susilo dan Irjen Ursinus Meddelu adalah sebuah ironi. Sama-sama komandan lalu lintas Polri, dengan kekayaan yang bagai bumi dan langit.
Seperti Hoegeng, banyak cerita menarik soal Ursinus. Tim merdeka.com mengupas sekelumit kisah soal teladan langka di tubuh korps lalu lintas ini.
Speech "SOEKARNO"
Indonesia's national heroes so "WISE and VISIONARY"
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri...” – Bung Karno
My Dream: P-E-N-G-H-I-B-U-R
My Dream: P-E-N-G-H-I-B-U-R: Setiap perkataan yang menjatuhkan Tak lagi ku dengar dengan sungguh Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa.. a...
P-E-N-G-H-I-B-U-R
Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa..
aku bukan seorang yang mengerti tentang
kelihaian membaca hati
aku cuma pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya..
oh bukankah ku pernah melihat bintang senyum
menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yg lelah jiwanya…
Ku gerak kan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandangT
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus...
Masih kucoba.. mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Letih, penat tak menghalangiku
Tuk temukan bahagia...
Oh.. bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya...
Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhela kan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali...
Jumat, 08 Februari 2013
Kekuatan Hati
Walau Langkah kaki tiada lagi berirama,
tarikan nafas telah terputus-putus,
detak jantung sudah tak beraturan,
denyut nadi semakin melemah,
pikiran mulai tertutup diliputi kepenatan...
Semangat dan tekad jangan sampai surut,
itulah amanah hidup,
suatu konsekuensi yang harus ditempuh dan dijalani,
meski harus berlumur darah,
diiringi isap tangis kepedihan,
Kesucian dan kekuatan hati jangan pernah pudar...
Jumat, 21 Desember 2012
SEJARAH & MAKNA HARI IBU
Di berbagai Instansi Pemerintah, Kampus, Sekolah, Rumah Sakit dan lain-lain setiap tanggal 22 Desember biasanya dilaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ibu.
Namun
tahukah anda apa yang melatarbelakangi tanggal 22 Desember diperingati
sebagai Hari Ibu, adakah peristiwa bersejarah dan istimewa yang terjadi
pada tanggal tersebut. Mungkin pertanyaan seperti ini sempat terbersit
dalam fikiran kita tapi sampai saat ini belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Baiklah mari kita kembali ke masa lalu tepatnya pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta, para pejuang wanita Indonesia dari Jawa dan Sumatera pada saat itu berkumpul untuk mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I (yang pertama).
Gedung Mandalabhakti Wanitatama
di Jalan Adisucipto, Yogyakarta menjadi
saksi sejarah berkumpulnya 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa
dan Sumatera yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres
Wanita Indonesia (Kowani).
Kalau
melihat kembali sejarah, sebenarnya sejak tahun 1912 sudah ada
organisasi perempuan. Pejuang-pejuang wanita pada abad ke 19 seperti M.
Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini,
Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said
dan lain-lain secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan
melalui gerakan-gerakan perjuangan.
Hal itu menjadi latar belakang dan tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan di Indonesia, dan memotivasi para pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara
berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju
kemerdekaan dan perbaikan nasib bagi kaum perempuan.
Pada
Konggres Perempuan Indonesia I yang menjadi agenda utama adalah
mengenai persatuan perempuan Nusantara;
peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan; peranan perempuan dalam
berbagai aspek pembangunan bangsa; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu
dan balita;
pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.
Banyak hal besar yang diagendakan namun tanpa mengangkat masalah kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu menuangkan pemikiran kritis dan upaya-upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan.
Pada Juli 1935 dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia II, dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.
Banyak hal besar yang diagendakan namun tanpa mengangkat masalah kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu menuangkan pemikiran kritis dan upaya-upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan.
Pada Juli 1935 dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia II, dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.
Penetapan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember sendiri baru diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada
tahun 1938. Dan puncak peringatan Hari Ibu yang paling meriah adalah pada peringatan yang ke 25 pada tahun 1953. Tak kurang dari 85 kota Indonesia dari Meulaboh sampai
Ternate merayakan peringatan Hari Ibu secara meriah.
Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu adalah setelah Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember
adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.
Pada
awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan
dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi itulah yang tercermin
menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan
bekerja bersama.
Salah satu contoh saat peringatan 25 tahun Hari Ibu Di Solo, dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya digunakan untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.
Pada peringatan Hari Ibu tahun 1950 an, dirayakan dengan mengadakan pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Dan satu sejarah penting kaum perempuan adalah untuk pertama kalinya wanita diangkat menjadi menteri, dialah Maria Ulfah yang pada tahun 1950 diangkat sebagai Menteri Sosial yang pertama oleh Presiden Soekarno.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan untuk dibuat sebuah monumen, dan pada tahun berikutnya dibangunlah Balai Srikandi. Ketua Kongres pertama Ibu Sukanto melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tersebut, dan pada tahun 1956 diresmikan Balai Srikandi oleh menteri Maria Ulfah. Dan akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen Balai Srikandi menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Kiprah kaum perempuan sebelum kemerdekaan Indonesia adalah Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri.
Salah satu contoh saat peringatan 25 tahun Hari Ibu Di Solo, dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya digunakan untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.
Pada peringatan Hari Ibu tahun 1950 an, dirayakan dengan mengadakan pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Dan satu sejarah penting kaum perempuan adalah untuk pertama kalinya wanita diangkat menjadi menteri, dialah Maria Ulfah yang pada tahun 1950 diangkat sebagai Menteri Sosial yang pertama oleh Presiden Soekarno.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan untuk dibuat sebuah monumen, dan pada tahun berikutnya dibangunlah Balai Srikandi. Ketua Kongres pertama Ibu Sukanto melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tersebut, dan pada tahun 1956 diresmikan Balai Srikandi oleh menteri Maria Ulfah. Dan akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen Balai Srikandi menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Kiprah kaum perempuan sebelum kemerdekaan Indonesia adalah Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri.
Hingga pada tahun 1973 Kowani berhasil menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW) yang berperan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Kalau kita melihat sejarah beta heroiknya kaum perempuan (kaum Ibu) pada saat itu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apakah sepadan dengan peringatan Hari Ibu saat ini yang hanya ditunjukkan
dengan peran perempuan dalam
ranah domestik. Misalnya dalam sebuah keluarga pada tanggal tersebut
seorang ayah dan anak-anaknya berganti melakukan tindakan domestik
seperti masak, mencuci, belanja, bersih-bersih, dan kemudian memberikan
hadiah-hadiah untuk sang ibu.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Meski secara maknawi peringatan Hari Ibu saat ini kurang sejalan dengan makna kegiatan perempuan yang dilakukan pada masa perjuangan dahulu. Tapi itulah kenyataan yang ada, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Demikianlah info mengenai Sejarah Dan Makna Peringatan Hari Ibu 22 Desember semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Ibu 22 Desember.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Meski secara maknawi peringatan Hari Ibu saat ini kurang sejalan dengan makna kegiatan perempuan yang dilakukan pada masa perjuangan dahulu. Tapi itulah kenyataan yang ada, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Demikianlah info mengenai Sejarah Dan Makna Peringatan Hari Ibu 22 Desember semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Ibu 22 Desember.
@joecsr_777
Sabtu, 08 Desember 2012
Meditasi untuk Setiap Minggu Masa Adven oleh: P. Victor Hoagland, C.P.
Masa
Adven. Empat minggu sebelum Natal merupakan masa persiapan, penantian
serta pengharapan. Liturgi Adven menggemakan kembali dengan seruan
kerinduan para nabi Yahudi: Sabda Yesus dan pewartaan Yohanes Pembaptis
bahwa Tuhan sudah dekat. Dengarkanlah seruan mereka. Meditasi singkat
atas Bacaan Injil selama Minggu Adven berikut ini semoga membantu kalian
dalam mendengarkan suara mereka.
Yesus
mengatakan kepada para muridnya: “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! …
Kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu datang.” Markus 13:33
O Yesus, suara-Mu lantang menembus ruang-ruang hidupku:
"Hati-hatilah dan berjaga-jagalah!"
Namun
demikian, hampir-hampir tak pernah aku mendengarkan-Mu. Aku sibuk
dengan berbagai macam hal, sibuk ini dan itu, seperti seorang hamba
terperangkap dalam rutinitas sehari-hari, hampir tak pernah aku
memikirkan apa makna hidupku. Rohku sudah lelah, dan Engkau ya Tuhan-ku,
terasa amat jauh. Bagaimana aku dapat mendengarkan suara-Mu hari ini?
Berbicaralah
kepada jiwaku selama masa rahmat ini, seperti Engkau berbicara kepada
para nabi-Mu dan para kudus-Mu. Ingatkan aku kembali akan panggilan
hidupku dan akan pekerjaan yang Engkau kehendaki aku lakukan. Aku ini
hambamu, ya Tuhan. Berbicaralah kepadaku pada masa yang kudus ini dan
arahkan mataku untuk menantikan kedatangan-Mu.
O Imanuel, Yesus Kristus,
kerinduan setiap bangsa, Juruselamat segenap umat manusia,
datang dan tinggallah di antara kami.
Ketika Yohanes Pembaptis menampilkan diri sebagai seorang pengkhotbah di tanah Yudea, inilah yang diserukannya:
"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Matius 3:2
O
Yesus, di padang gurun yang sepi, nabi-Mu Yohanes mewartakan : Tuhan di
sini, Tuhan ada bersamamu. Tuhan telah datang untuk mewujudkan suatu
kerajaan dimana tak ada lagi ketidakadilan serta penderitaan, di mana
air mata akan dihapuskan dan mereka yang berpaling kepada Tuhan akan
menikmati perjamuan.
“Berpalinglah
sekarang. Tuhan-mu berdiri di sampingmu. Bertobatlah, sebab Kerajaan
Sorga sudah dekat!" Di gurun yang sepi Yohanes menyerukan kata-kata itu.
Berilah
aku iman seperti Yohanes, ya Yesus, teguh percaya bahkan dalam
kekeringan sekalipun bahwa Engkau dan kerajaan-Mu tidaklah jauh dariku.
Buatlah hatiku teguh seperti hatinya, tak tergoyahkan oleh
pencobaan-pencobaan atau pun terjerat oleh kesenangan-kesenangan palsu.
Berilah aku keberanian untuk tetap setia hingga janji-janji-Mu digenapi.
O Raja segala bangsa, Yesus Kristus,
satu-satunya sukacita bagi setiap jiwa,
datang dan selamatkanlah umat-Mu.
Murid-murid
Yohanes bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau
haruskah kami menantikan seorang lain?” Yesus menjawab mereka:
“Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu
dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi
tahir ... dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” Lukas 7:19,22
O
Yesus, aku bersukacita atas tanda-tanda bahwa Engkau dekat dengan kami.
Kuasa-Mu ada di mana-mana, andai saja aku mampu melihatnya.
Namun
demikian, mataku lebih sering melihat hanya kegelapan dan
ketidakpastian. Aku percaya kepada-Mu, tetapi jika aku memandang
sekeliling, kejahatan tampak begitu kuat sementara kebaikan begitu
lemah. Jika Engkau telah datang, mengapa masih saja ada begitu banyak
penderitaan dan mengapa kaum miskin masih saja putus pengharapan? Di
manakah mukjizat-Mu kini?
Rahmat-Mu,
ya Tuhan, pada kenyataannya lebih berlimpah dari yang dapat aku
bayangkan. Aku tahu, kuasa-Mu ada di mana-mana di sekelilingku, ah andai
saja aku dapat melihatnya. Tunjukkan kepadaku sekarang di mana orang
buta melihat dan orang lumpuh berjalan.
Jadikan penglihatanku lebih tajam dari semula.
Malaikat
Gabriel berkata kepada Maria, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau
beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan
mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah
engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak
Allah Yang Mahatinggi….” Luk 1:30-32
O Yesus, aku percaya bahwa Engkau dilahirkan oleh Perawan Maria dan bahwa Engkau adalah Putra Allah.
Kedatangan-Mu
yang penuh misteri ada di luar pengertian kami. Namun, seperti BundaMu
yang kudus, Maria, aku rindu Engkau datang kepadaku, sebab Engkau
sendiri telah menjanjikannya. Ijinkan aku melayani-Mu dengan segala cara
yang aku mampu serta menyadari bahwa Engkau menyertaiku dari hari ke
hari sepanjang hidupku.
Seperti
Maria, BundaMu, meskipun aku hanya mengenal-Mu melalui iman, biarlah
seluruh keberadaanku mewartakan keagungan-Mu dan rohku bersukacita oleh
karena kasih-Mu kepadaku.
O Kebijaksanaan, Sabda Allah yang kudus, Yesus Kristus,
yang menggenggam segala sesuatu dalam tangan-Mu yang kuat namun lembut,
datanglah dan tunjukkan kepada kami jalan keselamatan.
Senin, 13 Agustus 2012
Jumat, 06 April 2012
Trihari Suci dan 40 Hari Masa Prapaskah
* oleh: Romo William P. Saunders *
Terkadang
saya mendengar imam dan juga yang lainnya mengatakan bahwa Trihari Suci
bukanlah bagian dari Masa Prapaskah. Tetapi, jika saya menghitung hari
dari Rabu Abu hingga Sabtu Suci, saya mendapati bahwa jumlahnya baru
genap 40 apabila kita menghitung juga Trihari Suci dan tanpa menghitung
enam hari Minggu sepanjang Masa Prapaskah. Saya tahu bahwa tanggal Rabu
Abu secara khusus ditetapkan supaya Masa Prapaskah berjumlah 40 hari.
Jadi, apakah benar saya mengatakan bahwa ketiga hari dari Trihari Suci
adalah sungguh bagian dari Masa Prapaskah?
~ seorang pembaca di Woodbridge
Seperti
dinyatakan dalam pertanyaan di atas, Masa Prapaskah memang dimulai pada
hari Rabu Abu dan merupakan masa persiapan khusus selama 40 hari untuk
merayakan Paskah. Juga, seperti dinyatakan dalam pertanyaan,
penghitungan “40 hari” dimulai dengan hari Rabu Abu, dengan
mengecualikan hari-hari Minggu sepanjang Masa Prapaskah, dan berakhir
pada hari Sabtu Suci.
Empatpuluh
hari Masa Prapaskah merupakan tradisi yang telah berlangsung lama dalam
Gereja kita, teristimewa setelah disahkannya kekristenan pada tahun
313. Konsili Nicea (tahun 325), dalam hukum disiplinernya, mencatat
bahwa dua sinode provinsial haruslah diselenggarakan setiap tahun, “satu
sebelum Masa Prapaskah selama 40 hari.” St. Sirilus dari Alexandria
(wafat 444) dalam serial “Surat-surat Festal” juga mencatat praktek dan
lamanya Masa Prapaskah, dengan menekankan masa puasa selama 40 hari.
Dan akhirnya, Paus St. Leo (wafat 461) menyampaikan khotbahnya bahwa
umat beriman wajib “melaksanakan puasa mereka sesuai tradisi Apostolik
selama 40 hari”. Orang dapat menyimpulkan bahwa pada akhir abad keempat,
masa persiapan selama 40 hari menyambut Paskah yang disebut sebagai
Masa Prapaskah telah ada, dan bahwa masa ini berakhir pada Hari Raya
Paskah.
“Konstitusi
tentang Liturgi Kudus” Konsili Vatikan II memaklumkan, “Dua ciri khas
Masa Prapaskah - mengenang atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina
tobat - haruslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan
dalam katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam
mempersiapkan umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka
mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak
waktu untuk berdoa” (no. 109). Selanjutnya Konsili menekankan, “Namun
puasa Paska hendaknya dipandang keramat, dan dilaksanakan di mana-mana
pada hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan, dan bila dipandang berfaedah,
diteruskan sampai Sabtu Suci, supaya dengan demikian hati kita terangkat
dan terbuka untuk menyambut kegembiraan hari Kebangkitan Tuhan” (no.
110). Instruksi ini tampaknya menyatakan bahwa Masa Prapaskah, masa
persiapan dalam doa, puasa dan matiraga terus berlanjut hingga Misa
Paskah pertama, yaitu Misa Malam Paskah.
Namun
demikian, dengan pembaharuan liturgi yang diprakarsai oleh Konsili
Vatikan II, perayaan Trihari Suci (= Triduum) - Kamis Putih, Jumat Agung
dan Paskah - juga dipertimbangkan kembali. Patut diingat bahwa Paus
Pius XII sesungguhnya memulai praktek ini dan pada tahun 1951
mengembalikan Malam Paskah ke tempatnya yang lebih sesuai. Masing-masing
liturgi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah tidak dipandang
sekedar sebagai perayaan dari peristiwa-peristiwa yang terpisah,
melainkan ketiganya sungguh dipandang sebagai satu misteri keselamatan.
Oleh sebab itu, Misa Perjamuan Malam Terakhir Tuhan pada hari Kamis
Putih tidak diakhiri dengan berkat penutup; melainkan berkat diberikan
di akhir Misa Malam Paskah. Dalam ensikliknya yang indah, “Ecclesia de
Eucharistia” Paus Yohanes Paulus II yang terkasih menulis, “Pencurahan
Roh Kudus telah melahirkan Gereja, dan mengutusnya ke seluruh dunia.
Tetapi saat yang menentukan bagi pencitraannya pastilah pendasaran
Ekaristi di Ruang Perjamuan. Dasar dan sumber mata airnya adalah seluruh
Trihari Suci Paskah. Dan semuanya ini seolah diramu, dipancarkan dan
dipadatkan buat selamanya dalam karunia Ekaristi. Dalam karunia ini,
Yesus Kristus dipercayakan kepada Gereja-Nya, sebagai penghadiran abadi
Misteri Paskah. Dengan itu, Ia membentuk misteri `kesatuan waktu' antara
Trihari Suci dan perlangsungan segala abad” (no. 5). Sebab itu, orang
dapat beragumentasi bahwa Masa Prapaskah berakhir dengan perayaan Misa
Perjamuan Malam Terakhir Tuhan pada hari Kamis Putih, yaitu awal dari
Trihari Suci; namun demikian orang juga akan mendapati Masa Prapaskah
yang kurang dari 40 hari, yang tidak sesuai dengan tradisi yang telah
lama berlangsung.
Jadi,
bagaimana? Mungkin, di sini tradisi mendapatkan penekanan yang lebih.
Seperti dinyatakan di atas, Konsili Vatikan Kedua mengingatkan kita
untuk mempertahankan puasa Paskah sepanjang Masa Prapaskah hingga Malam
Paskah, yaitu Misa Paskah pertama. Namun demikian, kita juga patut
merayakan Triduum sungguh sebagai satu peristiwa penyelamatan yang
memungkinkan kita untuk hidup dalam realitas abadi dari perjamuan malam
terakhir, sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Trihari Suci bahkan
merupakan masa persiapan yang terlebih intensif dalam menyambut Paskah
dan menghantar Masa Prapaskah pada puncaknya.
Kamis, 05 April 2012
Karena Ku Begitu Mengasihimu... (Kisah Sengsara Yesus)
Tetapi
bagaimana dengan peristiwa-peristiwa yang tidak disebutkan dalam Injil?
Misalnya peristiwa Yesus berjumpa dengan Maria, Bunda-Nya; Veronika
mengusap wajah Yesus; Yesus jatuh sebanyak tiga kali? Dari manakah
kisah-kisah ini berasal? Tampaknya kisah-kisah tersebut berasal dari
para peziarah perdana yang mengunjungi Yesusalem.
Menurut
Injil Yohanes, Bunda Maria berdiri dekat Salib Yesus (Yoh 19:25-27).
Tidakkah Bunda Maria termasuk dalam rombongan yang mengikuti-Nya dalam
perjalanan-Nya ke Kalvari, dan tidak mungkinkah mereka bertemu dalam
perjalanan itu? Para peziarah yang napak tilas di sepanjang Via Dolorosa
(=Jalan Sengsara) yakin dengan pasti akan hal tersebut.
Yesus
tentulah teramat lemah selama sengsara-Nya. Jika tidak demikian,
mengapakah Simon dari Kirene dipaksa untuk membantu memanggul salib-Nya?
Bukankah penderaan yang dilakukan oleh para prajurit Pilatus demikian
dahsyatnya? Para peziarah yang melewati Via Dolorosa dengan pasti
menyimpulkan bahwa Yesus jatuh lebih dari satu kali oleh sebab
kondisi-Nya yang sedemikian lemah. Sementara para peziarah sendiri
menapaki jalan Yerusalem yang sulit serta berliku-liku, mereka yakin
bahwa pastilah Ia jatuh berulang kali.
Versi
sesudahnya tentang kisah tersebut yang berasal dari abad keempat atau
kelima mencatat bahwa Veronika memiliki sepotong kain dengan gambar
Wajah Yesus. Para peziarah Barat kembali ke Eropa dan menceritakan kisah
tentang Veronika. Oleh karena devosi Jalan Salib berkembang pada akhir
abad pertengahan, kisah Veronika dikenangkan dalam perhentian keenam:
Veronika mengusap Wajah Yesus dalam perjalanan-Nya ke Kalvari dan Yesus
meninggalkan gambar wajah-Nya di kerudung Veronika. Reliqui dengan
gambar Wajah Yesus, yang dikenal sebagai “Kerudung Veronika”, dihormati di Gereja St. Petrus di Roma sejak abad kedelapan.
Para
wanita memainkan peranan penting dalam Jalan Salib. Sesungguhnya, Injil
memberikan kesan yang baik tentang mereka sepanjang kisah sengsara. Dua
Injil mengawali kisah sengsara dengan ceritera tentang seorang wanita
tak dikenal yang meminyaki kepala Yesus dengan minyak wangi yang mahal
harganya di rumah Simon si kusta, pada saat yang sama Yudas dan
imam-imam kepala bersekongkol untuk membunuh Dia (Mat 26:6-13; Mark
14:3-9).
Pada
zaman Yesus, para wanitalah yang biasa menghibur mereka yang menjelang
ajal serta menguburkan mereka yang meninggal. Kisah sengsara dalam Injil
menunjukkan bagaimana para wanita menunaikan tugas-tugas mereka.
Sungguh, Veronika memenuhi gambaran Injil secara mengagumkan - seorang
wanita yang mengulurkan tangannya kepada mereka yang menderita serta
menemukan wajah Tuhan yang tersembunyi di sana.
JUMAT AGUNG
Mengapa disebut demikian ? Sejak kapan dirayakan dalam Liturgi Gereja ?
Pada
awal kekristenan, khususnya pada abad pertama perhatian umat terarah
kepada misteri Paska, bukan tertuju kepada misteri sengsara pada wafat
Yesus. Namun demikian sejak abad ke 2 telah hidup tradisi “Menjaga Makam Yesus” selama 40 jam.
Pada
abad ke 3, kemudian berlangsung hingga abad ke 6, ibadat Jumat Agung di
Roma sangat sederhana, hanya terdiri dari bacaan-bacaan Kitab Suci dan
doa-doa. Namun pada waktu itu Gereja telah menetapkan peraturan pantang
dan puasa untuk umat, sehingga umat dapat mengambil bagian dari Sengsara
Yesus.
Liturgi Jumat Agung yang antara lain terdiri dari “penyembahan salib”
adalah tradisi umat kristiani di Yerusalem sejak abad ke 4. Pada hari
itu, sejak pagi hari umat sudah berangkat menuju bukit Kalvari untuk
mendengarkan Kisah Sengsara dan untuk mencium relikwi, yang
diyakini sebagai salah satu bagian kecil Salib Yesus. Pada pukul 3 sore,
mereka berkumpul kembali untuk mendengarkan nubuat-nubuat para nabi
Perjanjian Lama, sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci dan mendaraskan
Mazmur-mazmur yang ada kaitannya dengan kisah sengsara.
Pada
abad ke 7 tradisi tersebut mulai dipraktekkan di Roma. Sementara Mazmur
118 dinyanyikan, relikwi salib suci diarak dalam suatu prosesi dalam
Basilik “Salib Suci”. Pada saat itu pula dinyanyikan “Ecce Lignum” (lihatlah Kayu Salib). Inti upacara Jumat Agung adalah perarakan salib suci dan penghormatan terhadap Salib Yesus.
Sejak
semula tidak ada perayaan ekaristi, namun demikian imam dan umat yang
hadir dapat menerima komuni kudus yang berasal dari sisa komuni kudus
pada hari Kamis Putih sehari sebelumnya.
Liturgi
Jumat Agung pada abad pertengahan terdiri dari liturgi sabda, yakni
bacaan Kitab Suci dan doa, upacara penyembahan salib dan upacara komuni
kudus tanpa misa.
Pada abad ke 16, muncul praktek ‘meditasi terhadap Jalab Salib’ dengan merenungkan kata-kata terakhir Yesus di atas kayu salib, “Bapa, kedalam tangan-Mu, Kuserahkan Roh-Ku”.
Upacara liturginya berlangsung selama kurang lebih 3 jam yang terdiri
dari liturgi sabda, penyembahan salib, dan komuni kudus. Liturgi sabda
terbagi atas bagian bacaan Kitab Suci, doa umat meriah, dan diselingi
dengan madah pujian. Kurang lebih empat abad lamanya, model liturgi
dalam gereja berlangsung demikian.
Pada abad ke 20, sejak tahun 1955, dengan adanya pembaharauan dan penataan liturgi gerejani oleh Paus Pius XII,
maka litrugi Jumat Agung meliputi liturgi sabda, doa umat meriah,
penyembahan salib, dan komuni kudus. Pada bagian liturgi sabda, dikutip
dua teks Kitab Suci Perjanjian Lama, masing-masing Hos 6:1-6 dan Kel
12:1-11 , demikian pula dibacakan atau bila perlu dinyanyikan “Kisah Sengsara Tuhan”,
menurut penginjil Yohanes. Doa umat meriah dinyanyikan dengan intensi
demi kepentingan seluruh Gereja yang kudus. Pada upacara penyembahan
salib, kain penutup salib yang berwarna ungu dibuka dalam tiga tahap dan
setiap kali imam menyanyikan “Ecce Lignum”, sedangkan umat menjawab “Venite Adoremus” lalu berlutut menghadap salib. Sementara umat dengan tertib mencium salib, koor menyanyikan “Improperia” dan “Pange Lingua Gloriosi”. Dilanjutkan dengan komuni kudus yang diiringi dengan nyanyian Mazmur 22.
Pada tahun 1970, dikeluarkan instruksi tentang Liturgi Jumat Agung, terbagi atas 3 baigan utama, yakni Ibadat Sabda yang didahului saat hening di mana imam meniarap, Penyembahan Salib dan Komuni Kudus, Warna Liturgi adalah merah. Upacara liturgi berlangsung sesudah siang hari. Pada umumnya tepat pukul 15.00. Bacaan I : Yes 52:13 – 53:12 Bacaan II : Ibr 4:14-16 ; 5:7-9 Bacaan Injil : Yoh 18:1 – 19:42
Untuk kita renungkan :
Di
kayu salib, Yesus merelakan hidup-Nya agar kita selamat. Bersediakah
kita umat-Nya mengorbankan diri agar orang lain selamat ? Semoga Yesus
tidak disalibkan lagi setiap hari, karena setiap saat kita menyalibkan
sesama kita. Dalam Jumat Agung, kita mengucapkan “Selamat Bersama
Kristus”.
Rabu, 04 April 2012
PERJAMUAN MALAM TERAKHIR
PERJAMUAN MALAM TERAKHIR
Marilah
kita sekarang masuk ke dalam kisah Passio-Ku…. Kisah yang akan
mendatangkan kemuliaan bagi Bapa dan kekudusan bagi jiwa-jiwa terpilih
lainnya….
Malam
sebelum Aku dikhianati adalah malam penuh sukacita karena Perjamuan
Malam Paskah, inaugurasi Perjamuan Abadi di mana manusia akan duduk
makan menyantap DiriKu.
Andai
Aku bertanya pada umat Kristiani, “Bagaimanakah pendapat kalian
mengenai Perjamuan ini,” pasti banyak yang akan mengatakan bahwa inilah
tempat sukacita mereka, tetapi sedikit saja yang akan mengatakan bahwa
ini adalah sukacita-Ku…. Ada jiwa-jiwa yang menyambut Komuni, bukan demi
sukacita yang mereka alami, melainkan demi sukacita yang Aku rasakan;
sedikit sekali mereka, sebab sisanya yang lain hanya datang kepada-Ku
untuk memohon berkat dan rahmat.
Aku
memeluk segenap jiwa-jiwa yang datang kepada-Ku sebab Aku datang ke
Dunia demi memperluas Kasih dengan mana Aku memeluk mereka. Dan karena
kasih tidak bertumbuh kembang tanpa penderitaan, sedikit demi sedikit
Aku mengambil kemanisan itu, membiarkan jiwa-jiwa dalam kekeringan.
Dengan demikian, mereka berpuasa dari sukacita mereka sendiri demi
membuat mereka mengerti bahwa fokus mereka seharusnya pada suatu
kerinduan yang lain: DIRIKU.
Mengapakah
kalian berbicara mengenai kekeringan seolah kekeringan adalah suatu
tanda akan berkurangnya Kasih-Ku? Lupakah kalian bahwa andai Aku tidak
memberikan kebahagiaan, kalian harus merasakan kekeringan dan lain-lain
penderitaan kalian?
Datanglah
kepada-Ku jiwa-jiwa, tetapi ketahuilah bahwa hanya Aku yang menghendaki
segalanya dan yang mendorong kalian untuk mencari-Ku. Seandainya saja
kalian tahu betapa Aku sangat menghargai kasih yang tidak mementingkan
diri dan bagaimana hal itu akan dikenali di Surga! O, betapa jiwa yang
memilikinya akan bersukacita!
Belajarlah
dari-Ku, jiwa-jiwa terkasih, mengasihi hanya demi menyenangkan Dia yang
mengasihi kalian…. Kalian akan mendapati kemanisan, dan jauh lebih
banyak dari apa yang kalian tinggalkan; kalian akan menikmati begitu
banyak dari apapun yang Aku buat kalian mampu lakukan. Aku-lah yang
mempersiapkan Perjamuan. Aku-lah santapannya! Jadi, bagaimanakah mungkin
Aku mempersilakan kalian duduk di meja-Ku dan membiarkan kalian
berpuasa? Aku menjanjikan kepada kalian bahwa barangsiapa makan Aku, ia
tidak akan lapar lagi…. Aku memberikan Diri-Ku seperti itu demi
mengungkapkan Kasih-Ku kepada kalian. Dengarkanlah apa yang dikatakan
para imam-Ku, sebab mereka menggunakan perjamuan Paskah ini untuk
menghantar kalian kepada-Ku, tetapi janganlah berhenti pada apa yang
manusiawi, jika demikian kalian akan meniadakan tujuan lain dari
perjamuan ini.
Tak
seorang pun dapat mengatakan bahwa Perjamuan-Ku telah menjadi santapan
mereka apabila mereka hanya mengalami kemanisan…. Bagi-Ku, kasih
bertumbuh kembang sebanyak mereka menyangkal diri.
Banyak
imam-imam yang demikian sebab Aku ingin menjadikan mereka
pelayan-pelayan-Ku, bukan karena mereka sungguh mengikuti Aku….
Berdoalah bagi mereka! Hendaknyalah mereka mempersembahkan kepada BapaKu
kesedihan yang Aku rasakan ketika di Bait Allah Aku membalikkan
meja-meja para pedagang dan Aku mengecam para pelayan pada masa itu oleh
sebab mengubah rumah Allah menjadi suatu perserikatan pencetak uang.
Ketika
mereka mempertanyakan kepada-Ku dengan kuasa apakah Aku melakukan hal
itu, Aku merasakan suatu kepedihan yang bahkan terlebih mendalam dalam
membuktikan bahwa penyangkalan paling dahsyat atas Misi-Ku berasal tepat
dari para pelayan-Ku.
Sebab
itu, berdoalah bagi para imam yang memperlakukan Tubuh-Ku dengan
perasaan rutinitas dan, karenanya, dengan sangat sedikit kasih.
Kalian
akan segera mengetahui bahwa Aku harus menyampaikan ini kepada kalian
sebab Aku mengasihi kalian dan karena Aku menjanjikan pengampunan segala
siksa dosa sementara bagi mereka yang berdoa bagi imam-imam-Ku. Tidak
akan ada Api Penyucian bagi mereka yang menangisi imam-imam yang
suam-suam kuku, melainkan mereka akan segera menuju Firdaus setelah
hembusan napas terakhir mereka.
Dan
sekarang, ijinkanlah Aku memelukmu lagi agar engkau menerima hidup
yang, dengan sukacita tak terhingga, Aku jadikan engkau bagian darinya.
Malam
itu dengan Kasih yang tak terhingga, Aku membasuh kaki para Rasul-Ku
sebab itulah saat puncak untuk menghadirkan Gereja-Ku ke dunia.
Aku
ingin jiwa-jiwa-Ku mengetahui bahwa bahkan meski mereka mungkin
terhimpit oleh dosa-dosa terberat sekalipun, mereka tidak dikecualikan
dari rahmat. Mereka bersama dengan jiwa-jiwa-Ku yang paling setia;
mereka ada dalam Hati-Ku menerima rahmat-rahmat yang mereka butuhkan.
Aku
merasakan kepiluan yang mendalam pada saat itu mengetahui, diwakili
Yudas, Rasul-Ku, bahwa ada begitu banyak jiwa berkumpul di kaki-Ku dan
dibasuh begitu banyak kali dengan Darah-Ku, namun mereka tetap sesat!
Pada saat itu, Aku hendak mengajarkan kepada para pendosa bahwa hanya
karena mereka telah berdosa, tidak sepatutnya mereka menjauhkan diri
dari-Ku dengan berpikir bahwa tak ada lagi jalan dan bahwa mereka tidak
akan pernah dikasihi sebanyak sebelum mereka berdosa. Jiwa-jiwa yang
malang! Ini bukanlah perasaan Tuhan yang telah mencurahkan segenap
Darah-Nya bagi kalian. Datanglah kepada-Ku kalian semua dan janganlah
takut, sebab Aku mengasihi kalian. Aku akan membasuh kalian dengan
Darah-Ku dan kalian akan menjadi seputih salju. Aku akan membenamkan
dosa-dosa kalian ke dalam air Kerahiman-Ku dan tak ada lagi yang akan
dapat merenggut Kasih-Ku kepada kalian dari Hati-Ku.
Kekasih-Ku,
Aku tidak memilih engkau dengan sia-sia, tanggapilah pilihan-Ku itu
dengan murah hati. Setia dan teguhlah dalam iman. Lemah-lembut dan
rendah-hatilah agar yang lain mengenali kebesaran kerendahan hati-Ku.
@joecsr_777
Langganan:
Postingan (Atom)






