Senin, 25 Maret 2013
Speech "SOEKARNO"
Indonesia's national heroes so "WISE and VISIONARY"
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri...” – Bung Karno
My Dream: P-E-N-G-H-I-B-U-R
My Dream: P-E-N-G-H-I-B-U-R: Setiap perkataan yang menjatuhkan Tak lagi ku dengar dengan sungguh Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa.. a...
P-E-N-G-H-I-B-U-R
Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa..
aku bukan seorang yang mengerti tentang
kelihaian membaca hati
aku cuma pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya..
oh bukankah ku pernah melihat bintang senyum
menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yg lelah jiwanya…
Ku gerak kan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandangT
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus...
Masih kucoba.. mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Letih, penat tak menghalangiku
Tuk temukan bahagia...
Oh.. bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya...
Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhela kan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali...
Jumat, 08 Februari 2013
Kekuatan Hati
Walau Langkah kaki tiada lagi berirama,
tarikan nafas telah terputus-putus,
detak jantung sudah tak beraturan,
denyut nadi semakin melemah,
pikiran mulai tertutup diliputi kepenatan...
Semangat dan tekad jangan sampai surut,
itulah amanah hidup,
suatu konsekuensi yang harus ditempuh dan dijalani,
meski harus berlumur darah,
diiringi isap tangis kepedihan,
Kesucian dan kekuatan hati jangan pernah pudar...
Jumat, 21 Desember 2012
SEJARAH & MAKNA HARI IBU
Di berbagai Instansi Pemerintah, Kampus, Sekolah, Rumah Sakit dan lain-lain setiap tanggal 22 Desember biasanya dilaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ibu.
Namun
tahukah anda apa yang melatarbelakangi tanggal 22 Desember diperingati
sebagai Hari Ibu, adakah peristiwa bersejarah dan istimewa yang terjadi
pada tanggal tersebut. Mungkin pertanyaan seperti ini sempat terbersit
dalam fikiran kita tapi sampai saat ini belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Baiklah mari kita kembali ke masa lalu tepatnya pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta, para pejuang wanita Indonesia dari Jawa dan Sumatera pada saat itu berkumpul untuk mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I (yang pertama).
Gedung Mandalabhakti Wanitatama
di Jalan Adisucipto, Yogyakarta menjadi
saksi sejarah berkumpulnya 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa
dan Sumatera yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres
Wanita Indonesia (Kowani).
Kalau
melihat kembali sejarah, sebenarnya sejak tahun 1912 sudah ada
organisasi perempuan. Pejuang-pejuang wanita pada abad ke 19 seperti M.
Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini,
Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said
dan lain-lain secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan
melalui gerakan-gerakan perjuangan.
Hal itu menjadi latar belakang dan tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan di Indonesia, dan memotivasi para pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara
berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju
kemerdekaan dan perbaikan nasib bagi kaum perempuan.
Pada
Konggres Perempuan Indonesia I yang menjadi agenda utama adalah
mengenai persatuan perempuan Nusantara;
peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan; peranan perempuan dalam
berbagai aspek pembangunan bangsa; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu
dan balita;
pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.
Banyak hal besar yang diagendakan namun tanpa mengangkat masalah kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu menuangkan pemikiran kritis dan upaya-upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan.
Pada Juli 1935 dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia II, dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.
Banyak hal besar yang diagendakan namun tanpa mengangkat masalah kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu menuangkan pemikiran kritis dan upaya-upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan.
Pada Juli 1935 dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia II, dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.
Penetapan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember sendiri baru diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada
tahun 1938. Dan puncak peringatan Hari Ibu yang paling meriah adalah pada peringatan yang ke 25 pada tahun 1953. Tak kurang dari 85 kota Indonesia dari Meulaboh sampai
Ternate merayakan peringatan Hari Ibu secara meriah.
Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu adalah setelah Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember
adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.
Pada
awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan
dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi itulah yang tercermin
menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan
bekerja bersama.
Salah satu contoh saat peringatan 25 tahun Hari Ibu Di Solo, dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya digunakan untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.
Pada peringatan Hari Ibu tahun 1950 an, dirayakan dengan mengadakan pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Dan satu sejarah penting kaum perempuan adalah untuk pertama kalinya wanita diangkat menjadi menteri, dialah Maria Ulfah yang pada tahun 1950 diangkat sebagai Menteri Sosial yang pertama oleh Presiden Soekarno.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan untuk dibuat sebuah monumen, dan pada tahun berikutnya dibangunlah Balai Srikandi. Ketua Kongres pertama Ibu Sukanto melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tersebut, dan pada tahun 1956 diresmikan Balai Srikandi oleh menteri Maria Ulfah. Dan akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen Balai Srikandi menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Kiprah kaum perempuan sebelum kemerdekaan Indonesia adalah Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri.
Salah satu contoh saat peringatan 25 tahun Hari Ibu Di Solo, dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya digunakan untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.
Pada peringatan Hari Ibu tahun 1950 an, dirayakan dengan mengadakan pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Dan satu sejarah penting kaum perempuan adalah untuk pertama kalinya wanita diangkat menjadi menteri, dialah Maria Ulfah yang pada tahun 1950 diangkat sebagai Menteri Sosial yang pertama oleh Presiden Soekarno.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan untuk dibuat sebuah monumen, dan pada tahun berikutnya dibangunlah Balai Srikandi. Ketua Kongres pertama Ibu Sukanto melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tersebut, dan pada tahun 1956 diresmikan Balai Srikandi oleh menteri Maria Ulfah. Dan akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen Balai Srikandi menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Kiprah kaum perempuan sebelum kemerdekaan Indonesia adalah Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri.
Hingga pada tahun 1973 Kowani berhasil menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW) yang berperan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Kalau kita melihat sejarah beta heroiknya kaum perempuan (kaum Ibu) pada saat itu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apakah sepadan dengan peringatan Hari Ibu saat ini yang hanya ditunjukkan
dengan peran perempuan dalam
ranah domestik. Misalnya dalam sebuah keluarga pada tanggal tersebut
seorang ayah dan anak-anaknya berganti melakukan tindakan domestik
seperti masak, mencuci, belanja, bersih-bersih, dan kemudian memberikan
hadiah-hadiah untuk sang ibu.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Meski secara maknawi peringatan Hari Ibu saat ini kurang sejalan dengan makna kegiatan perempuan yang dilakukan pada masa perjuangan dahulu. Tapi itulah kenyataan yang ada, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Demikianlah info mengenai Sejarah Dan Makna Peringatan Hari Ibu 22 Desember semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Ibu 22 Desember.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Meski secara maknawi peringatan Hari Ibu saat ini kurang sejalan dengan makna kegiatan perempuan yang dilakukan pada masa perjuangan dahulu. Tapi itulah kenyataan yang ada, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Demikianlah info mengenai Sejarah Dan Makna Peringatan Hari Ibu 22 Desember semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Ibu 22 Desember.
@joecsr_777
Sabtu, 08 Desember 2012
Meditasi untuk Setiap Minggu Masa Adven oleh: P. Victor Hoagland, C.P.
Masa
Adven. Empat minggu sebelum Natal merupakan masa persiapan, penantian
serta pengharapan. Liturgi Adven menggemakan kembali dengan seruan
kerinduan para nabi Yahudi: Sabda Yesus dan pewartaan Yohanes Pembaptis
bahwa Tuhan sudah dekat. Dengarkanlah seruan mereka. Meditasi singkat
atas Bacaan Injil selama Minggu Adven berikut ini semoga membantu kalian
dalam mendengarkan suara mereka.
Yesus
mengatakan kepada para muridnya: “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! …
Kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu datang.” Markus 13:33
O Yesus, suara-Mu lantang menembus ruang-ruang hidupku:
"Hati-hatilah dan berjaga-jagalah!"
Namun
demikian, hampir-hampir tak pernah aku mendengarkan-Mu. Aku sibuk
dengan berbagai macam hal, sibuk ini dan itu, seperti seorang hamba
terperangkap dalam rutinitas sehari-hari, hampir tak pernah aku
memikirkan apa makna hidupku. Rohku sudah lelah, dan Engkau ya Tuhan-ku,
terasa amat jauh. Bagaimana aku dapat mendengarkan suara-Mu hari ini?
Berbicaralah
kepada jiwaku selama masa rahmat ini, seperti Engkau berbicara kepada
para nabi-Mu dan para kudus-Mu. Ingatkan aku kembali akan panggilan
hidupku dan akan pekerjaan yang Engkau kehendaki aku lakukan. Aku ini
hambamu, ya Tuhan. Berbicaralah kepadaku pada masa yang kudus ini dan
arahkan mataku untuk menantikan kedatangan-Mu.
O Imanuel, Yesus Kristus,
kerinduan setiap bangsa, Juruselamat segenap umat manusia,
datang dan tinggallah di antara kami.
Ketika Yohanes Pembaptis menampilkan diri sebagai seorang pengkhotbah di tanah Yudea, inilah yang diserukannya:
"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Matius 3:2
O
Yesus, di padang gurun yang sepi, nabi-Mu Yohanes mewartakan : Tuhan di
sini, Tuhan ada bersamamu. Tuhan telah datang untuk mewujudkan suatu
kerajaan dimana tak ada lagi ketidakadilan serta penderitaan, di mana
air mata akan dihapuskan dan mereka yang berpaling kepada Tuhan akan
menikmati perjamuan.
“Berpalinglah
sekarang. Tuhan-mu berdiri di sampingmu. Bertobatlah, sebab Kerajaan
Sorga sudah dekat!" Di gurun yang sepi Yohanes menyerukan kata-kata itu.
Berilah
aku iman seperti Yohanes, ya Yesus, teguh percaya bahkan dalam
kekeringan sekalipun bahwa Engkau dan kerajaan-Mu tidaklah jauh dariku.
Buatlah hatiku teguh seperti hatinya, tak tergoyahkan oleh
pencobaan-pencobaan atau pun terjerat oleh kesenangan-kesenangan palsu.
Berilah aku keberanian untuk tetap setia hingga janji-janji-Mu digenapi.
O Raja segala bangsa, Yesus Kristus,
satu-satunya sukacita bagi setiap jiwa,
datang dan selamatkanlah umat-Mu.
Murid-murid
Yohanes bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau
haruskah kami menantikan seorang lain?” Yesus menjawab mereka:
“Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu
dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi
tahir ... dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” Lukas 7:19,22
O
Yesus, aku bersukacita atas tanda-tanda bahwa Engkau dekat dengan kami.
Kuasa-Mu ada di mana-mana, andai saja aku mampu melihatnya.
Namun
demikian, mataku lebih sering melihat hanya kegelapan dan
ketidakpastian. Aku percaya kepada-Mu, tetapi jika aku memandang
sekeliling, kejahatan tampak begitu kuat sementara kebaikan begitu
lemah. Jika Engkau telah datang, mengapa masih saja ada begitu banyak
penderitaan dan mengapa kaum miskin masih saja putus pengharapan? Di
manakah mukjizat-Mu kini?
Rahmat-Mu,
ya Tuhan, pada kenyataannya lebih berlimpah dari yang dapat aku
bayangkan. Aku tahu, kuasa-Mu ada di mana-mana di sekelilingku, ah andai
saja aku dapat melihatnya. Tunjukkan kepadaku sekarang di mana orang
buta melihat dan orang lumpuh berjalan.
Jadikan penglihatanku lebih tajam dari semula.
Malaikat
Gabriel berkata kepada Maria, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau
beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan
mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah
engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak
Allah Yang Mahatinggi….” Luk 1:30-32
O Yesus, aku percaya bahwa Engkau dilahirkan oleh Perawan Maria dan bahwa Engkau adalah Putra Allah.
Kedatangan-Mu
yang penuh misteri ada di luar pengertian kami. Namun, seperti BundaMu
yang kudus, Maria, aku rindu Engkau datang kepadaku, sebab Engkau
sendiri telah menjanjikannya. Ijinkan aku melayani-Mu dengan segala cara
yang aku mampu serta menyadari bahwa Engkau menyertaiku dari hari ke
hari sepanjang hidupku.
Seperti
Maria, BundaMu, meskipun aku hanya mengenal-Mu melalui iman, biarlah
seluruh keberadaanku mewartakan keagungan-Mu dan rohku bersukacita oleh
karena kasih-Mu kepadaku.
O Kebijaksanaan, Sabda Allah yang kudus, Yesus Kristus,
yang menggenggam segala sesuatu dalam tangan-Mu yang kuat namun lembut,
datanglah dan tunjukkan kepada kami jalan keselamatan.
Langganan:
Komentar (Atom)

